Monday, January 30, 2006

Kaya Tapi Sederhana

Seorang teman pernah cerita. Dia punya tetangga yang hidupnya sangat sederhana. Di lingkungannya dia sering berkeliling jalan kaki, pakai celana pendek sambil bawa kantong plastik hitam. Sangat sederhana. Setelah dia meninggal tersebar berita heboh. Dia mewarisi kekayaan 50 milyar! Ini true story. Di daerah Bogor.
 
Ternyata banyak orang-orang kaya yang hidup begitu sederhana di dekat kita. Cuma, kita begitu terpukau oleh rumah mewah, penampilan mentereng dan mobil kinclong sebagai penanda status kekayaan. Jika kita jeli, tengok kiri kanan, ternyata banyak juga orang yang sudah masuk kategori kaya tapi tampil jauh dari simbol-simbol kekayaan itu. Mereka hidup sebagaimana orang kebanyakan. Ke sana kemari naik angkot, membelanjakan uangnya seperlunya dan penabung yang tekun.
 
Seorang anak muda di Bogor tahun 2005 lalu dapat untung dari bisnis sepatunya sampai 1 milyar. Seorang pengusaha garment di Tanah Abang saya dengar mengeluarkan zakat 250 juta. Usianya paling beberapa tahun di atas saya. Seorang tukang bakso di Lampung berpenghasilan 65 juta sehari, kata kawan saya. Di dekat tempat tinggal saya ada seorang Haji sederhana. Sehari-hari hanya pakai sarungan dan kaos swan bolong. Bisnisnya besi tua. Sekarang dia sedang membeli besi tua di Jambi. Biaya angkutnya saja sampai 1 milyar. Lain lagi dengan Pak Haji X, kemana-mana pakai sendal. Bepergian lebih sering naik taksi. Orang tidak tahu kalau tokonya berjumlah ratusan. Ada lagi seorang anak muda berumur di bawah 30 tahun yang berdagang di konter-konter di mall. Setiap bulan dia keluarkan lebih dari 60 juta untuk biaya sewanya saja. Kalau saya lanjutkan, masih panjang daftarnya.
 
Yang menarik adalah adanya kesamaan di antara mereka. Mereka semua sama-sama bergaya hidup sederhana. Jauh dari kesan tajir. Tidak bermobil Alphard, tidak berpakaian Giorgio Armani, tidak berjam tangan Rolex, tidak tercium aroma Bvlgari, tidak nongkrong di Starbucks, tidak juga liburan ke Eropa. Paling jauh mereka pergi haji atau liburan pulang ke kampung. Mereka lebih suka berbaur dengan orang banyak. Istilahnya low profile tapi high profit.
 
Seorang teman saya yang pergaulannya cukup luas pernah berseloroh,"Setelah saya bergaul dan bertemu dengan banyak orang, ternyata orang kaya itu justru bukanlah orang-orang yang sehari-harinya necis, berjas dan berdasi. Justeru orang yang bener-bener kaya sering berpakaian nggak formal, pakai kaos dan pakai sendal aja." Ha..ha..ha.. Kalau begitu saya orang kaya dong. Soalnya saya setiap hari hobi pakai jeans, kaos oblong dan sendal jepit.
 
The Millionaire Next Door, adalah buku laris karya Thomas J. Stanley Ph.D., dan William D. Danko, Ph.D, yang menceritakan orang-orang kaya di Amerika yang hidup sederhana. Ternyata orang-orang seperti itu juga banyak ditemukan di Indonesia. Apakah anda termasuk di dalamnya? Mudah-mudahan. Dan tetap sederhana tentunya.
 

Tuesday, January 17, 2006

Innalillahi: H. Yusuf Syarif asal Koto Marapak

Telah berpulang ke rahmatullah H. Yusuf Syarif pada tanngal 10 Januari 2006 di Kampung Jembatan, Klender Jakarta Timur.
 
Informasi ini kami peroleh dari Heri Indra 0812 900 6625.

Urang Magek Jakarta Terkotak-Kotak

Demikianlah topik yang dilontarkan salah satu pengurus ISOMA pada rapat pengurus hari Ahad, 15 Januari di Kantor ISOMA, Galur Jakarta Pusat.
 
Tentunya pengurus ini tidak sembarangan bicara. Menurut pengurus yang banyak bergaul dengan para pedagang dari kelas bawah sampai kelas ber-rolling (maksudnya punya toko dengan pintu rolling) ini, dia sering mendapat pernyataan dari warga Magek tentang terkotak-kotaknya warga Magek di Jakarta dan sekitarnya. Dia menceritakan, bahwa bila terjadi kematian, biasanya orang yang kaya dan terpandang lebih banyak yang datang melayat. Dapat uang musibahnya pun banyak. Kenapa pada saat orang Magek yang tingkat ekonominya lebih sudah tidak banyak yang datang melayat dan uang sumbangan yang terkumpul pun sedikit sekali.
 
Bahkan ada seorang warga Magek yang menyatakan tidak akan pernah lagi melayat setiap kematian. Pasalnya, selama ini dia selalu hadir di mana saja ada warga yang meninggal. Tapi, saat beberapa anggota keluarganya yang kebetulan meninggal secara beriringan, tidak banyak batang hidung orang Magek yang melayat. Kecewa sekali warga kita yang satu ini. Mulai saat itu dia bertekad untuk tidak hadir di mana pun warga Magek mendapat musibah kematian. Sampai sedemikian kecewanya beliau.
 
Rupanya selentingan kabar seperti ini sudah banyak beredar di kalangan urang Magek Jakarta. Seorang pengurus lain juga menimpali dengan cerita lain. Dia mendapat pertanyaan dari salah seorang warga Magek yang bertanya kenapa warga Magek di Jakarta ini sepertinya terkotak-kotak. Dia mendapat informasi bahwa ada acara arisan yang dihadiri oleh orang-orang kaya saja. Ada juga arisan-arisan yang khusus untuk warga dusun atau jorong tertentu saja.
 
Suasana rapat menjadi hangat dengan lontaran informasi seperti ini. Berbagai pendapat mengemuka menganalisa dan mencari jawab apa penyebab adanya pendapat yang sangat tidak produktif bagi perkembangan organisasi sosial warga Magek di Jakarta dan sekitarnya ini.
 
H. Musdir selaku Ketua ISOMA menjawab dengan bijak permasalahan ini. Menurut beliau pendapat seperti ini selalu ada, mulai dari saat beliau memimpin ISOMA ini belasan tahun lalu. Ketidakpuasan akan selalu mewarnai romantika perjalanan organisasi sosial ini. Sebaik dan sekeras apa pun pengurus berupaya menjalankan organsasi dan melayani warga, belum tentu dapat memuaskan semua warganya.
 
Khusus mengenai kematian ini. Diungkapkan oleh H. Musdir bahwa selama kepengurusan ISOMA JAYA periode 2003-2005 telah berpulang ke rahmatullah 40 warga kita. Pengurus dalam hal ini Bidang Musibah dan Kematian berupaya untuk selalu hadir bertakziyah dan membantu semampunya bagi keluarga yang ditinggalkan. Ada suatu periode, dalam beberapa bulan hampir setiap minggu ada warga yang meninggal. Ini tentu menyulitkan bagi pengurus untuk secara konsisten hadir melayat.
 
Ada beberapa hal yang mengakibatkan banyak atau sedikitnya jumlah pelayat dalam setiap kematian. Pertama, adalah berkaitan dengan hubungan sosial almarhum/ah semasa hidup. Kalau dia dikenal banyak aktif bersosialisasi, tentunya ia akan dikenal oleh banyak orang dan banyak orang yang datang melayat. Kedua, waktu meninggal. Kalau yang meninggal itu malam hari, biasanya pagi hari banyak pelayat yang berdatangan. Tapi bila meninggalnya siang hari atau pagi hari, biasanya pelayat kesulitan untuk hadir karena mereka sebagian besar sudah berangkat berdagang atau bekerja. Ketiga, informasi. Bila informasi itu disampaikan dengan cepat kepada pengurus biasanya akan mudah disampaikan lagi kepada warga yang lain. Kadangkala informasi itu tidak disampaikan atau terlambat. Sering pula informasi itu disampaikan tidak lengkap dengan alamat sehingga menyulitkan bagi yang ingin datang.
 
Mengenai sumbangan. ISOMA JAYA telah berketetapan untuk memberikan uang duka sebesar Rp. 100.000 kepada keluarga yang ditinggalkan sebagai tanda duka dari organisasi. Jumlah itu akan ditambah dengan sumbangan dari warga yang hadir melayat saat ini. Besar kecilnya tentu ditentukan oleh banyaknya yang hadir. Jadi, bila yang datang sedikit tentu uang yang terkumpul juga sedikit. Ada yang dapat lebih dari 2 juta, tapi ada juga yang bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya bagi keluarga yang ditimpa musibah. Kenapa waktu si Anu meninggal dapatnya banyak, sedangkan dia orang kaya. Sedangkan keluarga saya yang lebih membutuhkan dapatnya sedikit? Mungkin penjelasan di atas adalah jawabannya.
 
Tak ada gading yang tak retak. Demikian juga ISOMA, tak ada kerja yang sempurna dan menyenangkan semua anggotanya. Namun, dengan adanya organisasi ini kita punya wadah untuk berbuat dan menyempurnakan ikthiar kita untuk berbuat sesuatu bagi sesama warga Magek. Dengan adanya kepengurusan baru dan semangat baru ini mudah-mudahan ISOMA JAYA dapat berkiprah dan memberi sumbangsih berarti bagi warganya.
 
Demikian sekedar catatan dan laporan dari saya yang tujuannya untuk menyampaikan informasi dan mencari titik temu kesepahaman di antara kita. Bila ada yang kurang berkenan dalam tulisan ini, semata-mata karena kealpaan dan kekhilafan saya dalam menyampaikannya. Kesempurnaan hanyalah milik Allah.
 
Badroni Yuzirman
Bidang Wirausaha dan Ketenagakerjaan ISOMA JAYA
 

Thursday, January 12, 2006

Innalillahi: Khaidir, asal Kampung Manau

Khaidir, 12 Januari 2006 Jam 10.15. Asal Kampung Manau Magek. Alamat Perkampungan Industri Kecil Blok C No. 125 PIK Cakung Jaktim. Telp 460 8348. Jenazah dikubur hari ini sesudah shalat Dzuhur di PIK.

Friday, January 06, 2006

Rahasia di Balik Batu Malinkundang

Para Peneliti di Univeritas Andalas baru-baru ini telah
memecahkan misteri batu Malinkundang di tanah
Minang.Sekian lama batu yg menyerupai sosok tokoh
Malinkundang tersebut, dalam cerita rakyat Minang,
diyakini hanya merupakan cerita legenda belaka.

Namun para ahli sekarang telah mengetahui bhw batu tsb
diawetkan dengan formula canggih -khas resep
indonesia- yg kehebatannya melebihi ramuan para Mummi
dari Mesir.

Formula rahasia Malinkundang terkuak setelah ditemukan
sisa-sisa cairan yang terdapat pada botol, terkubur
secara aman, tak jauh dari batu Malinkundang. Pada
label botol tersebut tertulis dengan jelas "
FOR: Malin" yg artinya " untuk Malin".


Penduduk sektarnya -dan rakyat indonesia pada umumnya-
biasa menyebut "forma! lin" yaitu sebuah resep rahasia
nenek moyang yg biasa digunakan utk mengawetkan mayat,
namun karena kenaikan harga BBM dan krisis yg
berkepanjangan, formalin saat ini lazim dipakai utk
mengawetkan tahu, ikan asin, bakso, mie basah dan
tentu saja... Mayat, seperti dapat terlihat pada batu
Malinkundang yg masih tetap awet sampai sekarang di
tanah Minang.

Sunday, January 01, 2006

33 Mantan Anggota DPRD Sumbar Dieksekusi Senin Depan

Kamis, 29 Desember 2005 | 19:44 WIB

TEMPO Interaktif, Padang:Sebanyak 33 dari 43 bekas anggota DPRD Sumatera Barat periode 1999-2004 terpidana kasus korupsi APBD Sumatera Barat 2002 sebesar Rp 5,9 miliar akan dieksekusi Kejaksaan Negeri Padang, Senin depan (2/1).

Firdaus, Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Padang usai menerima petikan pemberitahuan putusan Mahkamah Agung yang berisi penolakan kasasi ke-33 mantan anggota Dewan, Kamis (29/12) pukul 16.00 WIB, mengatakan eksekusi akan dilakukan Senin (2/1) pukul 09.00 WIB.

"Hari ini kami sudah melayangkan surat pemanggilan kepada ke-33 terpidana yang isinya agar datang ke Kejaksaan Negeri Padang Senin, 2 Januari 2005. Bagi yang datang mereka akan langsung kami eksekusi ke Lembaga Pemasyarakatan Muaro Padang," kata Firdaus.

Bagi yang tidak datang, kata Firdaus, Kejaksaan akan langsung mendatangi kediamannya untuk diekskusi langsung. "Jika melarikan diri kami akan mencarinya, yang pasti statusnya sekarang juga dicekal ke luar negeri," katanya.

Kejaksaan, menurut Firdaus, sudah membentuk tim khusus yang disiapkan untuk proses eksekusi. Anggotanya tujuh orang dari Kejaksaan Negeri Padang ditambah beberapa orang dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat. Kejaksaan juga sudah menyurati Kepala Poltabes Padang untuk pengamanan ekskusi.

Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan putusan kasasi 43 mantan anggota DPRD Sumatera Barat 2 Agustus lalu yang isinya menolak kasasi mereka dan menguatkan putusan Pengadilan Tinggi.

febrianti

Wednesday, December 28, 2005

Benar, Masakan Minang Tidak Sehat!

Ass ww...
 
Bagi yang sudah membaca tulisan saya di Rangkiang no.11 tentang masakan Padang yang menurut saya kurang sehat, tentu punya pendapat pro dan kontra, termasuk Nur (ditunggu, tulisan bantahan dari Nur).
 
Tapi, terlepas dari pro dan kontra, saya menemukan fakta baru. Hari ini Papa saya baru pulang dari RS. Cipto setelah dirawat di ruang ICCU (Intensive Coronary Care Unit). Indikasinya jantung, namun alhamdulillah bukan. Ternyata beliau sakit hipertensi dan maag. Tapi hipertensi dan jantung itu setali tiga uang. Suster yang tahu Papa adalah orang Padang menyarankan agar mengurangi makan masakan Padang. Makan masakan Sunda aja, lebih sehat, katanya.
 
Uni Ida (penasehat GMIJ, dosen FE Trisakti), juga pernah melakukan survey kecil-kecilan di RS Jantung Harapan Kita dan menemukan bahwa dari 10 penderita yang dirawat di salah satu ruangan, ternyata 8 orang adalah orang Padang. Di koran Kompas hari Sabtu, 17/2/01 lalu juga menyebutkan bahwa 90% pengidap penyakit jantung di Indonesia adalah orang Padang. Saya sendiri sempat melihat nama2 pasien yang pernah dirawat di ruang ICCU RSCM, menemukan 40% pasiennya adalah urang awak.
 
Nampaknya fakta2 tersebut kita harus merenungkan kembali dan melakukan tindakan nyata untuk mencegah hal itu terjadi pada diri kita dan keluarga. Salah satu alternatifnya adalah melakukan food combining (ada di buku Unlimited Power karangan Anthony Robbins) atau versi penulis Indonesianya sudah ada di toko buku Gramedia atau Gunung Agung. Atau dapat juga mengadopsi pola makan suku bangsa lain yang dianggap sehat seperti Sunda, Jepang, Makassar, dll. Saya sendiri telah mulai mencobanya, meskipun dengan upaya yang sangat minimal.
 
Dalam jangka panjang bila hal ini tidak diperhatikan dan dicari jalan keluarnya, bukan tidak mungkin orang Minang yang berjumlah sekitar 6 juta ( 4 jta di Sumbar, 2 juta merantau) ini akan punah. Dan akan terjadi the lost generation!
 
Bagaimana pendapat anda?
 
Roni
Tulisan ini pernah diposting di milis tanggal 23 Februari 2001.

Dicari: Sastrawan Minang

Oleh: Badroni


Beberapa waktu lalu saya menyaksikan tayangan ulang
sinetron "Sengsara Membawa Nikmat" di TVRI. Ada
kenikmatan tersendiri menyaksikan tokoh si Midun, anak
muda Bukittinggi yang hidup teraniaya dalam sinetron
yang diangkat dari novel karya Tulis Sutan Sati ini.
Banyak nilai terkandung dalamnya seperti; keluhuran
budi, nilai agama, adat istiadat dan seba-gainya.
Nilai-nilai ini yang tidak lagi kita dapati dalam
cerita-cerita sinet-ron picisan yang memperkosa akal
sehat di televisi-televisi swasta.

Menyaksikan sinetron ini pikiran saya menerawang
ter-ingat kepada novel-novel sastra klasik karya
penulis dari Minang lainnya. Saya teringat karya-karya
klasik terbitan Balai Pustaka yang masih dijajakan
oleh pedagang kaki lima di Kwitang seperti Siti
Nurbaya karya Marah Rusli, Salah Asuhan karya Abdul
Moeis, Hulubalang Raja dan Salah Pilih karya Nur St.
Iskandar serta Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya
Buya Hamka. Karya-karya ter-sebut mengingatkan saya
akan jaman keemasan sastrawan Minang. Belakangan ini
saya tidak melihat  lagi adanya karya monumental dari
sastrawan Minang setelah cerpen Robohnya Surau Kami
karya AA. Navis yang sempat memancing polemik sampai
ke negeri jiran sana.

Sastrawan Minang memegang peranan penting dalam
periode sastra ketika itu. Para sastrawan daerah lain
banyak yang terpengaruh dan mengikuti gaya penulisan
sas-trawan Minang. Sastrawan Minang boleh dikatakan
menentukan arah sastra ketika itu.

Namun bagaimana kondisinya sekarang? Siapa sastrawan
Minang yang anda kenal saat ini? Untuk menyebutkan
lima nama saja kita akan kesulitan. Mungkin anda ingat
Taufik Ismail. Dari tulisan beliau kita bisa
mempertajam nurani. Tapi beliau lebih sebagai
budayawan yang banyak menulis prosa dan belum menulis
novel. Selain itu ada Gus Tf., sastrawan muda jebolan
insinyur pertanian yang saat ini cukup produktif
menulis. Di kala-ngan sastrawan nasional namanya sudah
mulai diperhitungkan. Tapi karya-karyanya agak sulit
dicerna karena terlalu kontemporer. Kurang nuansa
Minang dan ruh keagamaan seperti yang banyak kita baca
di novel karya sastrawan lama di atas.

Ironisnya, saya selama ini lebih akrab dengan karya
'orang lain'. Terpaksa saya kunyah Para Priyayi-nya
Umar Kayam, gerundelan ala Malioboro-nya Emha Ainun
Nadjib dan sastra santri-nya Ahmad Tohari.
Sampai-sampai saya bertanya kepa-da kawan yang orang
Jawa untuk mengartikan istilah-istilah Jawa di
buku-buku tersebut. Ketika mem-baca Para Priyayi, saya
memba-yangkan tanah di kota Wanagalih yang kering dan
pecah karena musim kemarau. Atau memba-yangkan
nikmatnya makan klepon, tiwul, gatot, ketan bubuk dan
getuk yang begitu "nyuus" saat digigit dalam buku
Sugih Tanpa Banda-nya Umar Kayam. Bagi saya itu semua
adalah pengkayaan pemahaman budaya, namun sekaligus
sebuah keterasingan budaya. Lama kela-maan saya mulai
menikmati ketera-singan itu.

Kenapa hal ini sampai terjadi. Kemana para pendekar
sastra Mi-nang yang begitu terkenal akan kepandaiannya
merangkai kata-kata? Agaknya tidak mudah ditemukan
jawabnya. Dari pengamatan saya kelangkaan ini karena
adanya ang-gapan menjadi sastrawan adalah pekerjaan
pemimpi dan tidak dapat mempertebal dompet. Banyak
orang Minang belaka-ngan ini yang terjebak dalam cara
pandang pragmatis. Pokoknyo nan capek jadi pitih.
Berangkat dari susahnya parasaian hidup di perantauan,
para orang tua mengarahkan anak-anaknya untuk sekolah
yang bila lulus bisa segera be-kerja dan hidup
sejahtera, tidak susah seperti orang tua-nya. Maka
dipilihlah bidang-bidang studi nan capek jadi pitih
itu. Saya sendiri termasuk di anta-ranya. Menurut
mereka sekolah dibidang sosial huma-niora seperti
sastra, seni, buda-ya, politik, bahkan agama akan
mempersulit cari kerja nanti. Sebagai alasan
pragmatis, pen-dapat tersebut dapat dimaklu-mi.
Celakanya adalah bila tidak ada lagi yang tertarik
dengan bidang-bidang sosial humaniora. Alhasil, kita
akan tetap merindukan jago-jago politik seperti Bung
Hatta, Sjahrir dan Haji Agus Salim. Kita akan tetap
merindukan ulama sekaliber Hamka dan Muhammad Natsir.
Kita akan lupa bahwa kita pernah menikmati goresan
pena Chairil Anwar dan Abdul Moeis. Kita akan
kehilangan jejak kesejarawanan Muhammad Yamin dan
Taufik Abdullah. Merekalah yang telah membawa nama
harum tidak hanya masyarakat Minang tapi juga nama
bangsa dan agama.

Penyebab lain adalah kurangnya minat baca di kalangan
masyarakat kita. Tapi bukannya minat terhadap cerita
itu sendiri tidak ada. Buktinya masyarakat begitu
antusias bila ada orang menceritakan Tambo yang entah
sampai saat ini belum bisa dibuktikan kebenarannya.
Begitu juga dengan sambutan hangat mas-yarakat saat
ditayangkannya sinet-ron Siti Nurbaya, Sengsara
Mem-bawa Nikmat dan Salah Asuhan. Artinya masyarakat
punya minat terhadap dongeng atau cerita. Hanya saja
malas membaca. Masyarakat kita lebih menyukai melihat
atau mendengar. Jadi, bagaimana mung-kin ditumbuhkan
kebiasaan menulis di kalangan masyarakat Minang
sedangkan minat baca saja masih kurang.

Kesalahan lain dapat juga ditimpakan pada kurikulum
pendi-dikan yang hanya menitikberatkan kepada nilai
yang diperoleh daripada apresiasi terhadap ilmu itu
sendiri. Proses pendidikan yang kita dapat-kan selama
ini juga membuat kita terjebak pada pengkotak-kotakkan
ilmu. Kita tidak mempedulikan cabang ilmu lain. Cara
berpikir seperti ini perlu diubah. Dalam sejarah Islam
sendiri tercatat banyak ilmuwan yang menggeluti
beberapa bidang keilmuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd
dan Ibnu Khaldun. Menjadi seorang spesialis itu bagus,
tapi menjadi spesialis yang juga mampu mengapresiasi
bidang ilmu lain juga penting. Anwar Ibrahim dalam
buku Renaisans Asia yang terkenal itu menulis;
"Universitas harus melahirkan lulusan-lulusan yang
tidak hanya unggul di bidang spesialisasi pilihannya
sendiri, seper-ti teknik, hukum, kedokteran, dan
ekonomi, tetapi juga harus menguasai dialektika dan
filsafat, di samping mempunyai minat dalam kesenian,
kesusastraan, dan musik. Para mahasiswa harus
bercita-cita menjadi manusia yang berpengeta-huan
multidimensional - mutaffan-nin, demikian disebut pada
masa kejayaan Islam".

Peran sastra dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara juga penting. Seorang pakar politik pernah
mengatakan bahwa salah satu prasyarat bagi perubahan
sosial adalah adanya novel sastra. Hadir-nya karya
sastra di dalam masya-rakat dapat mendorong perubahan
sosial. Tidak sedikit contoh di dunia ini yang
membenarkan pendapat itu. Novel  karya Vaclav Havel
telah berhasil membawanya menjadi pre-siden
Cekoslowakia. Novel Jose Rizal telah menggugah
perlawanan rakyat terhadap kolonialisme di Philipina.
Novel-novel karya Pra-moedya Ananta Toer begitu
ditakuti oleh pemerintah Orde Baru karena muatan
ideologi komunis-nya. Di era reformasi sekarang ini
masalah sastra mungkin akan lebih diperha-tikan lagi.
Tidak mengherankan, karena presiden kita yang kelima
ini (yang kedua adalah Syafruddin Pra-wiranegara)
adalah pecandu berat karya sastra.

Melalui tulisan ini saya ingin menggugah warga Magek
terutama generasi mudanya untuk lebih meng-apresiasi
sastra. Bila sudah dapat mengapresiasi dan
menikmatinya mungkin akan timbul keinginan un-tuk
menulis. Membekali diri dengan membaca karya penulis
Minang da-pat mengurangi keterasingan budaya bila
ingin beranjak membaca karya-karya penulis lainnya.
Novel karya sastrawan Minang tidaklah kalah mutunya
dengan karya-karya klasik  Charles Dickens, Jane
Austen  atau Leo Tolstoy sekali pun. Novel-novel
sastra tersebut merupakan salah satu harta pusako
selain yang kita kenal selama ini. Atau, apakah kita
masih punya pusako setelah Rumah Ga-dang tidak lagi
berpenghuni, surau-surau telah roboh dan ditinggalkan
dan sawah-ladang telah tergadaikan?


Monday, December 26, 2005

Cegah Hyper Inflasi di Indonesia

Jakarta, 21 Desember 2005

Sahabat menuju sejahtera,

Dari Harian Kompas hari ini, kita bisa membaca tulisan
berita tentang:
- Sierad PHK 1.500 pekerja, menyusul berita minggu
lalu tentang gelombang PHK yang mulai terjadi di
beberapa propinsi.
- Realisasi Proyek PU 74.4 %
- Target Ekonomi Meleset
- Disiapkan Paket Kebijakan, diantaranya adalah
insentif di bidang perpajakan
- Lahan Tak Produktif, Ratusan Transmigran Minggat
- Krisis Pangan, Paceklik, Warga Makan Oyek dan Tiwul
- Sapi Jatim tidak bisa dipasarkan, kebanjiran daging
sapi, ayam dan telur impor

Sementara minggu lalu, kita juga membaca dan mendengar
berita tentang aksi buruh diberbagai daerah: Banten,
Jawa Tengah, Jawa  Timur, dll, menuntut naik gaji.
Bahkan tuntutan naik 100%!!!

Dimana masa 'keemasan' pertumbuhan ekonomi yang baru
saja kita rasakan tahun 2003 dan 2004?
Bagaimana mungkin pada tahun-tahun tersebut, saat
inflasi kita hanya mencapai 5-6%, sekarang menjadi 18%
???
Kapan kita bisa sejahtera? Bila tahun lalu alasan kita
bahwa suku bunga terlalu rendah, tidak ada gunanya
menabung, sekarang kita menghadapi inflasi yang
tinggi, meskipun suku bunga naik menjadi cukup tinggi,
tidak ada lagi uang kita yang tersisa karena tergerus
kebutuhan hidup yang melonjak akibat inflasi. Lantas
kapan bisa sejahtera dengan menabung?

Apakah kenaikan gaji akan menyelesaikan masalah kita?
Dalam kondisi seperti ini bukankah perusahaan kita
juga mengalami kondisi yang sulit?

Lantas, apa yang dapat kita lakukan?

Kita sering lupa, bahwa selain 'Penghasilan', kita
juga memiliki
'Pengeluaran'. Dalam kondisi 'Penghasilan' kita
meningkat, sudah pasti terjadi..., 'Pengeluaran' kita
juga segera meningkat.
Gaya hidup kita berubah. Maka, Naik Gaji tidak secara
mutlak merupakan jawaban dari masalah ini.

Kalau kita memilih naik gaji, artinya kita hanya fokus
pada Penghasilan, ... kita lupa mengatur Pengeluaran
kita.
Akhir bulan, kita akan merasa pas-pasan lagi. Lantas
apa manfaatnya?
Selain itu, ada suatu BAHAYA BESAR yang mungkin saja
mengintai kita.

APA BAHAYA BESAR ITU?

Pemerintah menaikkan suku bunga, seiring dengan
naiknya inflasi, untuk menarik dana masyarakat.
Istilah ekonominya adalah menarik jumlah uang beredar.
Dengan menaikkan suku bunga, Pemerintah mengharapkan
masyarakat menabung. Apakah itu bisa tercapai?
Dengan semata Naik Gaji, bisa jadi masyarakat tidak
menabung. Masyarakat terus konsumsi. Tidak ada 'sense
of crisis'.
Maka 'Fiscal Policy' pemerintah tersebut bisa jadi
tidak efektif. Inflasi terus meroket karena 'Demand'
terus bertambah.
Kita menghadapi bahaya HIPER INFLASI.

Mungkin ini adalah pemikiran yang terlalu pesimis?
'Kemungkinan Terburuk' yang mungkin kita hadapi adalah
HIPER INFLASI sebagaimana pernah terjadi pada negara
Argentina, beberapa tahun yang lalu, atau negara
Bolivia, suatu masa yang lalu. Saat itu, telur rebus
seharga 1000 pada pagi hari, bisa menjadi 1.000.000
pada malam hari. Ada pula cerita, seseorang harus
mendorong gerobak berisi penuh uang kertas yang
dirampas gerobaknya karena nilai gerobak lebih
berharga dari uang tunai itu sendiri.

Hal-hal apa yang dapat memicu kejadian HIPER INFLASI
adalah:

- Inflasi tak terkendali (tentunya),
- (Kebijakan Ekonomi) Pemerintahan yang gagal,
- Obligasi / Surat Hutang Negara yang menjadi tidak
ada harganya,
- Tingkat Pengangguran yang tinggi,
- Neraca Pembayaran Ambrol, Impor jauh lebih banyak
daripada Ekspor,
- Produksi dalam negeri menurun tajam,
- Banyak perusahaan bangkrut,
- 'Goverment Spending' yang tidak efisien, tidak
efektif, banyak kebocoran dan korupsi.
- dan lain lain...

Kondisi lain yang mungkin terjadi:
- Dana masyarakat yang terhimpun dalam bentuk SBI akan
disalurkan oleh pemerintah dalam bentuk Kredit Usaha.
Bila risiko usaha dalam krisis adalah kegagalan, maka
berapa banyak 'biaya' yang akan terjadi?
- Semakin tinggi beban ekonomi, meningkatnya biaya
ekonomi karena
pengangguran, kebijakan iklim investasi yang tidak
efektif, pajak yang semakin tinggi (.. Anda sudah
punya NPWP? ), akan semakin membuat 'unit cost' produk
dalam negeri menjadi semakin mahal, sehingga harga
barang impor akan semakin murah.
- Barang Impor yang semakin banyak akan menyebabkan
Perusahaan Dalam Negeri gulung tikar....
- Sementara masyarakat kita makin terbuai mental
'konsumtif', budaya instant, tidak mau kerja keras,
hanya mau kerja seminim mungkin gaji setinggi
mungkin..., hanya semakin menciptakan budaya PASAR,
bukan budaya PRODUKTIF.
- Nilai mata uang akan semakin lemah, lemah...,
lemah.... sampai akhirnya mungkin... tidak ada
harganya...
- Desakan kompetisi globalisasi semakin berat, semakin
berat....


LANTAS APA PILIHAN UNTUK KITA?

Apa solusi yang mungkin bisa kita pilih untuk kita
usahakan?

1. KERJA LEBIH KERAS, LEBIH PRODUKTIF, LEBIH KERAS DAN
PRODUKTIF...
Bila kita hanya menuntut Naik Gaji, kita hanya
berpikir jangka pendek.
Dengan bekerja lebih keras, lebih produktif, kita
membangun kesejahteraan jangka panjang.
Ini pilihan nyaris mutlak.
TIDAK ADA YANG BISA MEMBEBASKAN KITA DARI BAHAYA
KETERPURUKAN, SELAIN USAHA KERJA KERAS.
Coba kita pikirkan, bagaimana mental kerja kita
dibandingkan dengan negara lain, yang sudah lebih
makmur dari kita?

2. GUNAKAN PRODUK DALAM NEGERI
Biar pun mahal, gunakan produk dalam negeri. Bangun
kebanggaan dan sekaligus bangun pondasi ekonomi negara
sendiri.
Bila ekonomi negara sendiri runtuh, siapa yang paling
sengsara? Siapa yang mau membantu dengan tulus?
Coba mulai dari yang kecil. Makanan, minuman, pakaian,
peralatan kantor, sepatu, dll....
Lihat semua barang yang ada disekitar anda, yang anda
gunakan sehari-hari...
Meski produk dalam negeri lebih mahal, atur prioritas.
Tidak perlu memiliki 3 barang kalau kita sudah cukup
dengan 2 barang.

3. BERIKAN LEBIH, MINTA BELAKANGAN, MULAI DARI DIRI
SENDIRI
Bila kita mengharapkan orang lain, pemerintah,
perusahaan, untuk memberi lebih dahulu...., bila satu
pihak mengharapkan pihak lain untuk melakukan
'kewajibannya' dulu, maka tidak akan ada perubahan....

4. BERHEMAT DAN BERINVESTASI
Badai mungkin ada didepan. Coba rasakan....
mungkinkah?
Mungkin ya? Mungkin tidak? Apa yang mungkin dapat kita
lakukan bila ternyata jawabannya adalah YA?
Hemat, akumulasikan dan investasikan dana Anda pada
tempat yang aman, atau lebih aman.
Pertimbangkan Risiko.

5. JANGAN SALAHKAN SIAPA-SIAPA, LAKUKAN DAN AJAK TEMAN
ANDA.
Menyalahkan pihak lain tidak akan memberikan manfaat
kepada kita. Saling menyalahkan tidak akan mengubah
apapun.
Jangan salahkan siapa pun, pemerintah, perusahaan,...
negara lain, ... bila terjadi masalah dalam ekonomi
negara sendiri, bila kita sendiri turut memberikan
kontribusi terhadap permasalahan tersebut.

Ajak teman Anda untuk membuat perubahan. Forward
pemikiran ini kepada teman, bila ANDA PEDULI.

Sahabat menuju sejahtera,

Lakukan sesuatu. Each Cent Counts. Setitik peningkatan
usaha pun berharga.
Coba bawa pemikiran ini pada manajemen perusahaan
Anda. Apa yang bisa dilakukan?
KERJA KERAS, PRODUKTIF, Berhemat, Berinvestasi,
Antisipasi.

Apakah Naik Gaji (saja) cukup untuk menjawab
permasalahan Anda?
Bila pemikiran ini dapat bermanfaat untuk antisipasi
masalah di perusahaan Anda, saya terbuka untuk
mendiskusikannya.

Salam Sejahtera. Sekaranglah Masa Kerja Keras!!!

Hendri Hartopo

Konsultan Keuangan, Perbankan, Investasi, Asuransi
Direktur KOMMIT Sejahtera (Konsultan Koperasi
Karyawan)
Penulis Buku Laris "Save Or Sorry!"

Sunday, December 25, 2005

Senangkan Orang Tua Semasa Hidup!

Senangkan Orang Tua Semasa Hidup!

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu
mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk
belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun
lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5
orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di
Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang
lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya
mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu
diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah
mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar
balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan
sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan
bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta
pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya sibuk, ayah.
tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan
antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. "Biarlah
ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah."
katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah
berkali-kali pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu
masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak
berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya
tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang
sibuk, sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat
mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap
kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus
membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya
penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah,"
katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin
untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus
berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap
agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah.
Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya
kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara
sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.!
Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya
Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya
memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke
mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah
yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu
minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu.
Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan,
ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya
mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. "Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan.
"Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit
yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu meminta
saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, "Ada apa, bang?"
Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata,
"Ayah sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat
Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue
pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri
mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu.
Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya
mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang
sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan
seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum
meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya
bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak
dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat
akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan
diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu
masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak
berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.
Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

Pentingnya Visi dan Komitmen dalam Hidup

Pentingnya Visi dan Komitmen dalam Hidup

( KH Abdullah Gymnastiar )


''Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan.'' (QS Al Hasyr [59]: 18).

Saudaraku, masyarakat kita sekarang sedang mengidap penyakit kronis yang
sangat berbahaya. Penyakit itu adalah tidak memiliki visi dan tidak memiliki
komitmen dalam hidup. Tidak adanya visi atau tujuan dalam hidup,
menjadikannya pendek pikiran. Karena pendek pikiran ia lebih tertarik
melakukan hal-hal yang instan sifatnya, yang memberikan kenikmatan sesaat,
tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya.

Tidak adanya visi menjadikan seseorang tidak komitmen menjalankan
nilai-nilai kebenaran. Ia terombang-ambing dalam ketidakpastian. Ia tidak
memiliki semangat juang untuk sukses dan istikamah dalam beramal. Dua
penyakit ini-tidak memiliki visi yang jelas dan tidak memiliki komitmen
dalam kebenaran-pada akhirnya akan melahirkan ketidakdisiplinan. Dan tidak
disiplin menjadi modal awal untuk meraih kegagalan.

Padahal, Allah SWT telah memberi tuntunan, ''Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.'' (QS Al Hasyr
[59]: 18).

Tidak adanya visi dan komitmen akan menyebabkan seseorang sibuk
beraktivitas, namun semua yang dilakukannya tidak efektif, tidak bernilai
tambah, dan hanya membuang-buang waktu. Sebab, ia hanya mengerjakan hal-hal
yang kurang penting, atau bahkan tidak penting. Mungkin pula aktivitas yang
ia lakukan sangat menyenangkan, namun akibat yang ditimbulkannya demikian
panjang dan berat. Tidak sebanding antara yang ia dapatkan dengan yang ia
korbankan. Karena segalanya dilakukan tanpa arah yang jelas dan perhitungan
yang matang.

Demikianlah, seorang remaja akan yang tergelincir melakukan maksiat, karena
ia tidak memiliki visi yang jelas dalam hidupnya. Bagaimana membangun
keluarga sakinah? Apa akibat yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut?
Semuanya gelap. Ia hanya memikirkan kesenangan untuk waktu itu saja. Ia
Muslim, namun tidak memiliki komitmen dengan nilai-nilai keislamannya.

Seorang pegawai yang tidak memiliki visi dalam hidup, dan komitmen terhadap
nilai-nilai, maka ia akan bekerja seenak perut, tidak berpikir untuk
mengembangkan diri dan bekerja secara profesional. Ia hanya menuntut hak
tanpa peduli kewajiban. Tak heran bila dalam waktu singkat, ia tergusur oleh
perubahan.

Seorang pejabat yang tidak memiliki visi dalam hidup, komitmennya menjaga
amanah rakyat sangat diragukan. Ia akan dengan mudah tergelincir dan
menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri, tanpa peduli dengan akibat
yang ditimbulkan.

Seorang pedagang yang tidak memiliki visi dan komitmen dalam hidup, akan
mudah menipu pembeli. Ia akan menukar kebahagiaan dan keberkahan dengan
keuntungan sedikit.

Karena itu, siapa yang memiliki visi atau tujuan yang jelas dalam hidup,
lalu ia berjuang keras menjaga komitmen hidupnya, maka ia akan menjadi
manusia disiplin. Dan dengan kedisiplinan, gerbang kesuksesan akan segera
kita jelang. *Wallahu a'lam*.

Friday, December 09, 2005

Menikah: Irma dan Hendra

Jakarta, Ahad, 4 September 2005 di Gedung Panti Perwira (Wisma Marinir) Jakarta Pusat. Irma Hilma, SKM dengan Hendra Gunawan, SKM. Irma adalah putri ketiga dari H. Tjoen Nasrullah (Lurah Ateh) dan Hj. Lenggo Geni (Ujung Tanjung). Hendra berasal dari Cijulang, Ciamis, Jawa Barat.
 
Hendra resmi menjadi urang sumando dengan gelar Sutan Pangulu.
 
Selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

Halal Bihalal Bicu Magek Sakato (BIMASAKO)

Hari Senin 07 Nopember 2005
Jam 09.00 - 12.00 BBWI
 
Bertempat dirumah Gadang Kediaman Hj. Safiah (Almh), Lurah Ateh, Nagari Magek.
 
Dihadiri oleh para ninik mamak, urang sumando, pasumandan, urang rantau, Bicu rumah gadang, limpapeh, datuk, kepala adat dan desa.
 
 


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

Innalillahi: Rahmah Aminy

Telah berpulanng ke rahmatullah, Rahmah Aminy, asal Koto Marapak, Jumat,= jam 09.15 WIB di RS Islam Cempaka Putih Jakarta. Alamat rumah Jalan Setia 1 No.13 Jatiwaringin Pondok Gede Jakarta Timur Telp 847 7822. Dimakamkan hari ini jam 15.00 WIB di Pemakaman Sunan Giri Rawamangun. Almarhumah adalah kakak dari Hj. Aisyah Aminy. Semoga amal ibadahnya diridhoi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan dapat menerimanya dengan tawakal. Amin ...

Sunday, December 04, 2005

Undangan: Halal Bi Halal Warga Magek Jakarta Raya, 11 Desember 2005

Sekapur Sirih
Halal Bi Halal 1426 H
ISOMA JAYA
 
Rokok nan sabatang ka ganti siriah jo pinang
Minta ditarimo jo hati suko
Harapan mamak nan lapang dado
Sanang di hati manarimonyo
 
Halal bi halal alah mananti
Kesempatan awak mambarasiahkan diri
Basamo-samo awak pai
Udan dan uni sanak saudari
 
Assalamu'alaikum Wr. Wb
 
Pengurus Ikatan Sosial Magek Jakarta Raya (ISOMA JAYA) mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i), pada acara Silatuarahmi /Halal Bi Halal 1426 H yang insya Allah akan diadakan pada:
 
Hari: Ahad, 11 Desember 2005
Waktu: Pukul 09.30 s/d 12.30 WIB
Tempat: Aula Sasana Dhaya Sakti, Jl. Kesatrian I Kebon Manggis Matraman, Jakarta Timur
Acara:
- Pembukaan
- Pembacaan Kalam Ilahi
- Sambutan-sambutan
- Pembacaan doa
- Lepas dan Sambut Pengurus ISOMA lama dan baru
- Hiburan: Saluang
- Ramah-tamah dan makan siang bersama
- Door Prize
 
Atas Perhatian dan kehadiran Bapak/Ibu/Sdr(i) kami ucapkan terima kasih
 
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
 
ttd.
Moh Aqil Ali St. Rajo Alam, SH (Ketua Pelaksana)
H. Musdir Sulaeman (Ketua Umum ISOMA JAYA)
 
NB.
- Dimohon kepada warga untuk menyumbang bagi pembiayaan Halal Bi Halal dan dimasukkan ke dalam kotak yang tela disediakan panitia.
- Kepada warga yang telah menerima undangan ini, diharapkan memberitahukan kepada warga yang belum menerima undangan dan pemberitahuan tersebut dianngap sebagai undangan.
 
Petunjuk angkutan umum: Mikrolet M 01 jurusan Kampung Melayu - Senen, turun di Pemadam Kebakaran.
 
IKATAN SOSIAL MAGEK JAKARTA RAYA (ISOMA JAYA)
Sekretariat: Jl. Biduri Pandan No.40
Galur - Johar Baru Jakarta Pusat
Telp. 021 420 9607
 

Saturday, December 03, 2005

Menikah: Fitri Siswanti dengan Irmansyah

Bogor, 2 Desember 2005
Fitri Siswanti (Yanti) dengan Irmansyah (Ir). Yanti adalah putri dari alm Lazuardi dan Yamsasni (Simpang Kacang), Irman adalah putra dari H. Damsir dan Hj. Nurbaya. Akad nikah dilangsungkn di Simpang Kacang Magek, Senin 14 November 2005.

Thursday, November 17, 2005

Innalillahi: Dawani, asal Simpang Kacang

Depok 4 November 2005, jam 09.30 WIB
Ibu Dawani, dlm usia 92 tahun, asal Simpang Kacang. Alamat jl Kedondong 4 No.13 Perumnas Depok. Almarhumah adalah ibu dari Hj. Inen dan mertua dai Bpk Bujang Konsor. Dimakamkan pada hari yang sama di Depok.

Wednesday, November 16, 2005

Dari Magek: Warga Magek akan Bertanam Coklat

Dari Temu Ramah Warga Magek Dengan Menteri Pertanian dan Anggota DPR RI

Menteri Pertanian RI Ir. Anton Apriyantono dan Anggota DPR RI Dr. Irwan Prayitno berkesempatan bertatap muka dengan warga Magek pada hari Jumat, 3 Juni 2005 bertempat di TPA Surau Panjang.

Menteri menerima Keluhan warga mengenai kesulitan pertanian di Magek yang mengalami kekeringan karena saluran air tersumbat akibat sungai Batang Mambuo dan Batang Agam sudah sempit sekali. Menteri menjawab bahwa beliau tidak bisa langsung menangani masalah ini karena sudah otonomi daerah. Yang bertanggung jawab adalah Dinas Pertanian Kabupaten Agam dan Dinas Pekerjaan Umum yang kebetulan hadir saat itu.

Pada kesempatan itu Menterri juga membagikan 2000 bibit coklat. Menurut beliau di Magek sangat bagus untuk ditanami coklat. Beliau mencontohkan d Sulawesi Selatan makmur karena coklat, juga Kabupaten Gorontalo bisa makmur dengan menanam jagung.

Warga yang ramai memenuhi empat ruangan kelas itu dengan antusias menyambut uluran tangan Menteri tersebut. Warga juga meminta bibit manggis karena di Magek harga jualnya bagus.

Mereka juga menyampaikan keluhan bagaimana di Magek dulu terkenal dengan anak ikan. Tapi sekarang hal itu tinggal kenangan karena saluran air sedikit yang mengakibatkan ternak ikan tidak lagi bisa dilakukan karena kekeringan.

Hadir ketua DPRD Agam, Bupati Agam, Ketua DPRD Kodya Padang, anggota DPRD Sumbar dan seluruh tokoh Magek termasuk Wali Nagari dan Camat.

Sumber: Dasrial Sikumbang

Budaya: Urang Minang Galie, Licik, Cadiak dan Pandai

Beberapa tahun yang lalu, seorang peneliti dari Universita Indonesia menyatakan bahwa salah satu sifat dari orang Minang adalah “galie” yang diberinya arti negatif sama dengan “licik”. Banyak orang Minang waktu itu, termasuk tokoh-tokoh Minang, sangat berang karena merasa tersinggung “per”-nya. Serentak mereka menantang sang peneliti untuk berdisksi secara terbuka mengenai hasil penelitiannya itu

Pertanyaan dasar dalam hal ini apakah benar orang Minang itu “galie”, dan apakah “galie itu identik dengan “licik” ataukah identik dengan “licin”, dan bukan “licik”.

Di Minangkabau, kita mengenal orang “nan ampek jinih”, sebagai tokoh dan pemuka masyarakat yaitu niniek mamak, alim ulama, cadiak-pandai, dan bundo kanduang.

Cadiak pandai di samping sebagai “urang nan ampek jinih”, juga dianggap sebagai sifat orang Minang yaitu “cadiak dan pandai”.

Apakah sifat cadiak sama pengertiannya dengan pandai. Kalau tidak sama di mana letak bedanya?

Penajaman pemahaman kita tentang sifat-sifat yang selalu dihubungkan dengan watak ke-Minangkabauan ini, agaknya sangat penting kita dalami, supaya kita dapat memahami “jati diri” kita sendiri. Dengan penajaman pemahaman itu kita akan mengetahui apakah benar kita orang Minang ini, orang galie, licik di saatu pihak serta di sisi lain kita juga bersifat cadiak dan pandai. Apakah masing-masing sifat itu seiring sejalan dalam diri kita, ataukah saling bertentangan satu sama lain. Pertanyaan yang pokok dalam menghadapi era globalisasi ,sifat dan watak Minang mana yang harus kita kembangkan. Bila kita bicara tentang pengembangan sumber daya manusia, sifat-sifat yang mana akan kita berikan prioritas dalam pendidikan generasi muda Minang khususnya. Apakah perlu kita “malu” bila dikatakan sifat umum kita itu “galie, licik, cadiak dan pandai”. Marilah kita renungkan.

Galie
galie berarti seseorang yang bertindak untuk mempertahankan keuntungan yang sudah diperolehnya, dan sekaligus tidak lagi memberi kesempatan kepada pihak lawan untuk menebus kekalahannyaDulu di kampung, anak laki-laki suka bermain “ukak”, main “panda”, atau “main simbang”. Main simbang biasanya oleh anak-anak padusi. Main ukak adalah main dengan menggunakan damar (kemiri). Pemainnya terdiri dari dua orang, masing-masing mempertaruhkan tiga butir buah kemirinya. Cara permainan dilakukan dengan melemparkan keenam buah kemiri ke arah sebuah lubang, yang biasanya dibuat di pangkal sebuah pohon yang agak besar. Kemiri yang masuk ke lubang dianggap miliknya si pemain, sisanya yang empat masih di luar. Pihak lawan menentukan salah satu dari keempat kemiri yang di luar untuk dilempar dengan kemiri jantan yang dipunyai oleh pemain. Bila kemiri yang ditunjuk kena lemparan secara tepat, maka pihak pemain dianggap memenangkan seluruh kemiri tapi kalau yag dilempar masuk ke dalam lubang setelah dilempar, maka pemain dianggap gagal dan tidak berhak atas kemiri yang di lubang, maupun yang di luar. Kini giliran main ditukar dengan pemain yang kedua dengan cara yang sama. Pelemparan kemiri dilakukan dengan jarak sekitar tiga meter dari lubang.

Kalau seorang anak sudah menang cukup banyak, misalnya dia sudah mengantongi 20 kemiri, makan dia mulai berpikir. Akan terus main ataukah akan berhenti. Kalau main terus bisa kalah, kalau berhenti, maka pihak lawan yang sedang kalah langsung marah dan menggerutu serta menuduh lawannya dengan kata-kata “galie ang” atau “galie wa ang”. Jadi di sini kata galie berarti seseorang yang bertindak untuk mempertahankan keuntungan yang sudah diperolehnya, dan sekaligus tidak lagi memberi kesempatan kepada pihak lawan untuk menebus kekalahannya, atau meneruskan kekalahannya sampai landeh (habis-habisan). Apakah sifat galie seperti ini baik atau tidak baik, perlu atau tidak perlu kita kembangkan sebagai sifat orang Minang? Marilah kita renungkan.

Licik
Di lapau, empat orang muda asyik bermain remi. Bermain remi adalah memainkan 2 lembar kartu remi. Caranya tiap orang mula-mula diberi kartu sebanyak tujuh lembar. Jadi kartu yang dibagi sebanyak 4 x 7 lembar = 28 lembar. Sisanya ditaruh di tengah sebagai cadangan, yang dapat diambil sebagai tukaran dari kartu yang kita buang karena tak dibutuhkan oleh lawan di sebelah, atau pun kawan kita yang berhadapan dengan kita. Tujuan remi adalah mengumpulkan sebanyak 3 buah kertas remi yang sejenis. Misalnya kertas bergambar King (Raja) sesama King lainnya, kertas berangka 10, dihimpun sebanyak tiga buah dengan kertas berangka 10 juga dari jenis gambar yang berbeda misalnya 10 Spade dihimpun bersama 10 Heart dan 10 Diamond, atau 10 Clover. Atau bisa juga dihimpun gambar atau angka yang berurutan. Misalnya, kertas bergambar King Heart dihimpun dengan kertas bergambar Queen dan Joker bergambar Heart yang sama. Atau bisa juga angka berurutan dari jenis kertas yang sama misalnya kertas berangka 10, 9, dan 8 dari jenis kertas bergambar Clover. Pemain yang lebih dulu dapat mengumpulkan jenis seperti di atas, maka dialah pemenang dan dialah yang diberi bonus.

Bila dalam permainan ini misalnya seseorang mempunyai empat lembar kertas di tangan yang terdiri dari tiga lembar kertas yang memenuhi salah satu kriteria di atas, sedangkan yang satu lembar lagi merupakan kertas berlebih yang tidak memungkinkan pemenangnya remi (menang), maka dengan muka tenang dia bilang dia remi dan menunjukkan tiga kertas yang sejenis, dan pada saat yang sama atau sebelumnya dia telah menyembunyikan lembar ke-4 yang berlebihan. Pemain itu dianggap pemenang selama tidak ketahuan bahwa ada kertas yang disembunyikan. Tapi bila akhirnya ketahuan ada kertas yang disembunyikan,maka pihak lawan akan berteriak “wa-ang licik”. Jadi di sini yang dimaksudkan licik adalah perbuatan seseorang menghalalkan cara utnk mencapai tujuan memperoleh kemenangan. Jadi licik adalah identik dengan tujuan menghalalkan cara. Atau juga dapat dirumuskan mencapai tujuan dengan menipu atau curang. Apakah mayoritas orang Minang mempunyai sifat sedemikian ini. Kalau memang benar, mari sama-sama kita ubah dan tidak perlu dikembangbiakkan lagi.

Cadiak
Saya tidak begitu berminat dengan televisi, karena kebanyakan acaranya “konyol”. Namun ada satu film yang saya suka dari televisi yaitu film berjudul McGyver. McGyver saya anggap tokoh yang luar biasa “cadiaknyo”. Dia merupakan seorang tokoh yang selalu dapat mengatasi kesulitan dengan cara yang sangat kreatif. Dia selalu bisa lolos dari lubang jarum. Dia mempunyai seribu akal dalam mengatasi kesulitan. Dia senantiasa mengandalkan otaknya dan jarang mengandalkan ototnya. Baginya, otak yang utama, sedangkan otot hanya sekedar penunjang. Apa ada orang yang seperti in di Minangkabau, yang menomorsatukan otaknya dan menomorduakan ototnya.

Konon nama Minangkabau berasal dari adu kerbaunya orang Jawa denga anak kerbaunya Datuk Perpatih nan Sebatang dari Minang. Tatkala pasukan Majapahit memasuki wilayah yang kini kita kenal dengan nama Minangkabau, maka pemuka masyarakat Minang seperti Dt. Perpatih nan Sebatang berpikir dan maagak-agak. Apakah mungkin laskar Minang mengalahkan pasukan besar Majapahit ini? Beliau mulai memutar otak dan mengambil kesimpulan “tidak akan mungkin menang melawan pasukan bsar yang sudah berpengalaman banyak itu”. Oleh karena itu, beliau mencari akal, maka diajukan tawaran untuk mengadu kerbau. Kerbau siapa yang menang, maka dialah yang berhak menguasai Ranah Minang. Pemilik kerbau yang kalah harus mengundurkan diri. Akhir cerita adalah kerbau besar dari Jawa diadu dengan anak kerbau yang kuat menyusu, namun diberi tanduk dari besi yang tajam. Ringkasnya, kerbau yang itu terbuai perutnya dan mati. Menanglah si anak kerbau Dt. Perpatih nan Sebatang sehingga sejak itu daerah seedaran Gunung Merapi dan salingkung Gunung Singgalang sampai ker Ranah Lima Puluah di sebut ranah Menangkerbau, atau kini dikenal sebagai Ranah Minang. Jadi, “cadiak” berarti di sini bahwa dalam menghadapi masalah sulit dan rumit, orang itu masih mampu mencari jalan keluar untuk mengatasinya. Jadi, yang dikatakan “cadiak” dalam pengertian orang Minang adalah kemampuan menggunakan akal mengatasi keadaan yang rumit. Oleh karena itu, dalam pengertian adat Minang yang dikatakan cadiak pandai adalah orang yang cadiak biopari, tahu diereng jo gendeng, tah dicakah jo kaik, pandai manarah manalakang, pandai marapek dalamm aie. Mambuhue indak mambuku, mauleh indak mangasan. Itulah nan cadiak. Sifat seperti itu kiranya perlu dilestarikan dan dikembangkan di kalangan muda Minangkabau.

Pandai
Kalau cadiak berhubungan dengan akal pikiran atau kecerdasan otak, maka “pandai” berhubungan erat dengan keahlian profesional atau keterampilan seseorang. Oleh karena itu, orang cerdik belum tentu pandai. Sebaliknya orang “pandai” belum tentu juga cerdik. Jadi, orang cerdik pandai adalah orang yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah yang rumit, dan mempunyai keterampilan profesional untk menunjang kehidupan ekonominya. Pepatah Minang menyebutkan “tukang nan pandai takkan membuang kayu”. Kayu nan kuek ka tunggak tuo, nan luruih ka rasuak paran, nan lantiang ka bubungan, nan bungkuak katangkai bajak, nan ketek katangkai sapu, nan satampok ka papan tuai, nan rantiang ka pasak suntiang, nan pangka ka kayu api, abunyo ka pupuak padi. Jadi, “pandai”berarti memiliki suatu keterampilan yang berguna untk hidup dan kehidupan kita sendiri.

Contohnya adalah “pandai besi”, tukang batu, tukang kayu, tukang ameh, tukang uruik, dan sagalo macam dan banamo “tukang”, termasuk petani, pengrajin, termasuk tukang ota, tukang copet.

Sifat “pandai” dalam pengertian profesional ini kiranya sangat perlu dikembangkan sebagai sifat yang harus dimiliki orang Minang.

Memperdalam sifat-sifat seperti berani, rajin, adil, setia, tenggang rasa, hemat (bukan sampilik) akan memperkuat watak pribadi orang Minang, karena dengan cara itu mereka akan lebih mengenal jati dirinya dan akan bangga dengan sifat dan watak ke-Minangkabauannya.

Penulis: Amri M.S.,dalam buku Adat Minangkabau, Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang.

Kesehatan: Mengenali Penyakit Rematik

Penderita rematik cenderung menyerang orang berumur setengah baya, terutama laki-laki. Umumnya pasien sudah mempunyai kadar asam urat yang tinggi dalam darahnya. Penyakit rematik merupakan sebutan untuk gangguan persendian. Namun, ada juga jenis penyakit rematik yang tidak menyerang sendi melainkan di otot atau jaringan ikat di luar sendi.
Penyakit rematik jenis ini banyak sekali, ada lebih dari 100 jenis.
Menurut dr Nyoman Kertia, SpPD-KR, kepala Sub Bagian Reumatologi, Bagian Penyakit Dalam RS Dr Sardjito/Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, penyakit rematik yang paling umum dan banyak terjadi di masyarakat adalah osteoartritis (OA), artritis gout, artritis reumatoid (AR), dan osteoporosis. Orang awam biasa menyebut artritis gout sebagai asam urat. Penyakit yang biasanya juga disebut pirai ini banyak terjadi, tapi banyak orang yang tidak mengetahuinya.
Penderitanya cenderung berumur setengah baya, terutama laki-laki.
Umumnya pasien sudah mempunyai kadar asam urat yang tinggi dalam darahnya.''Asam urat tidak menyerang wanita yang belum menopause karena wanita masih memiliki hormon estrogen yang membantu mengeluarkan asam urat dari darah ke kencing,'' jelas Nyoman. Gejala pirai sangat khas, yakni salah satu sendi mendadak sakit, dan kebanyakan hanya satu. Yang disukai pirai adalah sendi-sendi jari kaki, sendi pergelangan kaki, dan sendi lutut. Kadang-kadang sendi di tangan juga bisa terkena pirai.
Ciri-cirinya adalah persendian kaku, bengkak, merah, sulit berjalan, dan bergerak. Bila diobati, penyakit asam urat ini sembuh. Bahkan, tidak diobati pun rasa sakit berkurang, atau seperti sembuh. Namun, kadang-kadang mendadak kambuh lagi.
Mengelola kadar asam uratPirai disebabkan oleh faktor bawaan, dan makanan. Yang faktor bawaan sulit untuk dicegah. Sementara faktor makanan bisa dihindari. Makanan yang bisa mendatangkan asam urat adalah jeroan, emping/melinjo, kacang-kacangan, sayur kobis, sawi, bayam, kangkung, durian, nanas, makanan kaleng, dan minuman.

Rata-rata hampir semua makanan mengandung asam urat. Hanya saja, ada yang banyak dan ada yang sedikit. ''Sesungguhnya soal makanan tidak harus dilarang. Boleh saja seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung asam urat, tetapi jangan banyak-banyak,'' saran Nyoman.Awalnya asam urat ada dalam darah. Lama-lama penyakit ini masuk ke sendi sehingga menyebabkan rasa sakit di sana. Maka, yang penting bagaimana kadar asam urat dalam darah rendah agar asam urat ini diserap oleh sendi. Ada kalanya asam urat dalam darah normal tetapi sendi tetap sakit. Ini karena asam urat di sendi masih banyak.

Bila pirai disebabkan oleh faktor genetik penderita biasanya disarankan untuk minum obat secara rutin. Tetapi, kalau lebih banyak disebabkan oleh karena minuman (alkohol) atau makanan yang banyak mengandung asam urat, maka penderita bisa diobati dengan baik asalmenghindari makanan/minuman yang mengandung asam urat. Jika disebabkan oleh faktor genetik, penyakit pirai muncul sebelum usia 30 tahun.

Pengobatan dilakukan dengan melihat kondisi penderitanya. Apakah mereka sedang kambuh atau tidak. Bila tidak sedang kambuh, penderita pirai harus berusaha mengurangi kadar asam urat dalam darahnya dengan obat agar asam urat dalam darah tidak naik. Kalau penderita sedang kambuh, mereka diberi obat untuk mengurangi rasa sakit. ''Kalau pasien saya kadang saya suntik antiradang,'' kata Nyoman.

OsteoartritisOrang-orang yang sudah berusia lanjut biasanya terkena osteoartritis.Kalau pun sampai menyerang orang yang masih setengah baya, bisa jadi orang tersebut terlalu gemuk, sulit menahan badan yang terlalu besar, trauma yang berkali-kali, dan terbentur lututnya. Atau, sendi lainnya sering terbentur sehingga merangsang terjadinya osteoartritis. ''Di antara pasien rematik yang datang berobat pada saya, penderita osteoartritis paling banyak, bisa sekitar 70 persen,'' kata Nyoman.

Yang paling sering terkena osteoartritis adalah lutut. Sendi panggul, dan sendi jari tangan paling ujung juga bisa terkena. Pencegahannya yang penting berat badan tidak berlebih, dan lutut jangan sering terkena trauma yang keras. Bila sudah terkena osteoartritis, janganbanyak jalan, olahraga berenang, dan naik sepeda. Ada obat-obat semacam suplemen yang bisa menumbuhkan tulang rawan, tetapi harus diminum dalam jangka waktu yang lama. Obat yang disuntikkan memberikan hasil yang lumayan bagus, tetapi harganya agak mahal. ''Sayamenyebutnya disuntik oli sendi. Pada sendi-sendi tertentu memang ada olinya.
Kalau tidak ada oli, sendi kaku dan kalau dipaksakan berjalan justru sendinya rusak. Setelah disuntik oli, ada yang bertahan beberapa tahun bagus, tetapi ada juga yang hanya setahun olinya sudah habis,''jelas Nyoman.

Penyakit artritis reumatoid disebabkan oleh faktor genetis.Biasanya dimulai akibat reaksi kekebalan. Kalau tidak diobati, penderita akan nyeri terus. Umumnya penyakit ini paling menyukai sendi tangan. Sendi kaki dan lutut juga bisa terkena. Gejala penyakit ini penderita akan merasakan kaku-kaku yang sangat pada pagi hari.Penyakit ini dapat mengenai semua orang pada semua usia, dan menyukai wanita usia reproduktif.

Osteoporosis adalah penyakit keropos tulang yang disebabkan oleh berkurangnya kandungan kalsium tulang. Osteoporosis paling banyak mengenai wanita yang sudah menopause dan bisa menyebabkan patah tulang. Obat osteoporosis banyak tetapi mahal, sehingga lebih bagus pencegahan. Untuk mencegahnya sebaiknya mulai janin dalam kandungan, misalnya ibu waktu hamil minum kalsium yang cukup, vitamin D, fosfor, dan gizi yang bagus. Setelah lahir diberikan cukup gizi dan makanan yang mengandung kalsium, aktif berolahraga sehingga tulang tumbuh dengan baik, dan sering terkena sinar matahari.

Rematik pada Anak-anak Rematik tak hanya menyerang orang dewasa. Ada juga jenis rematik yang menyerang anak-anak dan anak muda, yaitu:
Juvenille Reumatoid ArtritisPada anak-anak gejalanya tidak khas, di antaranya badan panas dan ketika sendi, terutama di tangan ditekan-tekan, terasa sakit. Biasanya ada faktor bawaan yang dirangsang oleh adanya infeksi.
KawasakiBiasanya badan panas dan ada bercak-bercak merah di seluruh badan.
Systemic Lupus Erythematosus (SLE).Penyakit ini sering dijumpai pada wanita muda. Penyakit sistemik ini dalam keadaan ringan hanya mengenai organ tidak berbahaya, dengan gejala timbul bercak merah-merah. Namun, bisa juga berbahaya bila mengenai organ seperti ginjal, jantung, paru-paru, sumsum tulang,sistem peredaran darah, dan syaraf. Kalau mengenai sendi, sendi sakit, bengkak, dan kaku. Penyakit ini agak khas, diikuti dengan sariawan.
''Kalau ada sakit-sakit sendi dan sering sariawan, rambut rontok, orang demam terus, perlu berpikir barangkali ada penyakit SLE,'' saran Nyoman. Penyakit SLE ada faktor genetik. Infeksi apa saja kadang merangsang timbulnya lupus. Hawa dingin bisa menambah sakit.
Spondiloartropati seronegatifPenyakit ini kebanyakan menyerang laki-laki usia muda.

Source: Republika Online,dikirim oleh Zulfikar Th.